Andai Pacarku Seorang Demonstran

Oleh: Meike Lusye Karolus

Mungkin aku akan duduk dan mendengarkanmu terus berbicara
Tentang Nietzsche, Marx, dan Freud
Bagaimana kau membenci ketidakadilan
Bagaimana perjuanganmu untuk membela yang tertindas

Aku pasti betah berdiskusi denganmu
Tentang apa saja : hidup ini, kebebasan, kekuasaan, dan masa depan
Mungkin aku bisa meminjam buku-bukumu
Buku wacana dengan bahasa tinggi atau novel yang sarat picisan

Rasa was-was akan menghampiriku setiap kali mendengarmu beraksi
Aku membayangkan kau berada di sana
Berdiri dengan gagah berani di tengah terik matahari dan hujan
Menyuarakan aspirasi sebagai agen sosial
Membuatku khawatir jika berubah menjadi bentrokan
Sedih
Aku hanya bisa mengamatimu dari jauh

Bagiku kau bukan sekedar lelaki berjas almamater berikatkan revolusi
Kau tetap lelakiku dimana aku menemukan oase di tengah gurun gersang
Kau bukan hanya seseorang yang berteriak demi keadilan
Tapi kau juga menggengamku untuk melangkah menuju terang

Di mataku kau tetap lelakiku
Yang sering kubelai rambutnya dan bahunya kupakai untuk bersandar
Kata-katamu lebih dari rayuan
Dan dalam pelukanmu aku tenang

Andai pacarku seorang Demonstran…

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/01/20/andai-pacarku-seorang-demonstran-336188.html

 

Cara yang Berbeda

Oleh: Dimas Prakoso

Saya dulu pernah menjadi salah satu bagiannya
pengisi baris dan menyuarakan pendapat di jalanan
Menjadi salah satu orang yang memegang megaphone
dan menutup akses lalu lintas

Sekarang saya masih berada di jalan yang sama
dengan peran yang berbeda
dengan teman yang tidak menggunakan penutup wajah bercorak
dengan warna baju atasan yang tak lagi seragam

Semua tentu akan berubah
Saya salah satunya
Tujuan saya masih tetap sama
dan kini cara mencapai tujuannya yang berbeda

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.