Berapa Nomer Teleponmu?

Dear @RifahSakinah

Pengunjung cafe telah datang satu persatu. Malam ini meja-meja terisi penuh. Petikan gitar akustik di panggung sederhana yang disediakan, seakan memanggil mereka untuk memenuhi tempat ini. Nyaman, tenang berubah menjadi riuk pikuk khas anak muda perkotaan. Ada yang sibuk dengan smartphone ditangan, ada yang sibuk dengan makanan, dan ada pula yang sedang menikmati musik yang disajikan. Saya sendiri sedang apa disini? Meja hanya ditemani dengan laptop, buku, handphone, secangkir kopi dan tanpa makhluk hidup satupun. Mungkin ini yang dikatakan anti mainstream, berbeda dengan pengunjung cafe lainnya lakukan.

Hey, tunggu dulu, ada orang lain datang dengan aura yang berbeda. Tidak kalah anti mainstreem-nya dengan saya. Siapa dia? Hadir dengan balutan busana batik, rok berwarna krem dan bersepatu merah. Tampak dewasa dari pengunjung lainnya. Pengunjung disini lebih dominan menggunakan kaos hitam, jeans dan sepatu kets. Dia tampak sangat mencolok di ruangan ini. Sama mencoloknya ketika kunang-kunang hadir digelapnya malam. Kita dibuatnya fokus pada cahaya saat gelap.

Saya mulai berkemas. Bukan untuk pulang, tapi untuk pindah meja. Menyapa sosok yang berbeda di malam ini.

Pantas tidak pernah terlihat, kau ternyata seorang pengunjung baru disini. Perempuan yang datang karena letak tempat kerjanya berada tidak jauh dari cafe. Sekedar melepas kepenatan dari rutinitas kerja seharian, katanya. Hidup memang sesederhana FTV untuk jatuh cinta. Kita bercerita, mengenal, memiliki kesamaan, kemudian ketawa bersama. Tapi, ada yang kurang dari malam ini. Berapa nomer teleponmu?

Tertanda
Teman barumu

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.