Delapan Surat Istimewa

Hari ulang tahunku sudah lewat. Lebih tepatnya empat hari yang lalu. Ada yang berbeda pagi ini. Saya merasa seperti empat hari yang lalu. Ucapan ulang tahun kembali hadir. Kali ini sebuah kertas menjadi medianya. Tulisan tangan anak-anak SD mengisi kekosongan kertas itu. Sekitar delapan lembar total ucapan yang ditulis oleh delapan orang anak SD, yang telah memenuhi amplop berwarna putih.

Surat-surat dari siswa kelas 5 SDN 22 Inp Rura
Surat-surat dari siswa kelas 5 SDN 22 Inp Rura

Membuka dan membaca setiap lembaran surat yang diterima. Ternyata benar, mereka adalah anak-anak kelas 5 dari SDN 22 Inp Rura, Dusun Rura, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene. Mereka adalah anak-anak yang sempat kukunjungi sekolahnya ketika sedang mengantarkan buku-buku donasi ke Majene. Ternyata mereka masih mengingat saya dan teman-teman.

Nama-nama mereka masih ada yang saya ingat. Kata sapaan hadir di bagian awal setiap surat. Misalnya, “apa kabar”, “bagaimana kabarnya” dan lain sebagainya. Kata-kata ini sungguh membangun imajinasi kehadiran mereka didepan saya saat membaca. Meskipun susunan kata, kalimat dan tanda bacanya masih kurang terlihat, namun ini menjadi hal lucu saat dibaca. Ini tidak menjadi penghambat dalam membaca salam, ucapan dan puisi yang mereka berikan. Mereka ternyata juga punya cara yang manis dalam menyampaikan selamat kepada saya. Mereka juga tahu cara menyelipkan semangat kedalam setiap kalimat surat.

Di beberapa surat, mereka meminta jenis buku yang dibutuhkan disana. Misalnya, buku matematika, cerita bergambar (cerita nabi, dongeng dan lainnya), dan kamus Bahasa Indonesia. Saya pernah mendistribusikan buku ke sekolah mereka dan ternyata mereka disana kekurangan bahan bacaan. Saya senang melihat anak meminta buku kepada orang yang telah dewasa. Itu tandanya mereka mempunyai semangat belajar yang tinggi. Jika saya punya rezeki nanti, akan kuajak mereka rekreasi ke toko buku untuk memilih buku-buku yang mereka mau. Mungkin mereka tidak/belum pernah melihat buku dalam jumlah yang banyak, yang telah menunggu mereka untuk dibaca. Di kalimat yang lain dari surat ini, tidak lupa mereka mencantumkan cita-citanya. Saya jadi ingat ketika menanyakan “apa cita-cita kalian?” ketika masuk di kelas mereka. Menulis memang mampu menumbuhkan ingatan kembali.

Sepertinya surat-surat ini adalah selipan semangat yang ditujukan kepada saya dan teman-teman Penyala Makassar. Semangat mengajak orang-orang di Makassar untuk mendonasikan buku yang mereka butuhkan. Semoga masih ada yang bisa menjaga semangat belajar mereka dengan mendonasikan buku kesana. Tugas saya dan teman-teman mengajak donasi dan mengirimkan hasil donasi kepada mereka. Hasil donasi itu tentu akan membangkitkan semangat mereka untuk menuju cita-citanya. Cita-cita yang telah mereka tuliskan didalam kertas ini.

Tunggu balasan surat ini dengan buku-buku hasil donasi para Penyala Makassar. Terima kasih ucapan ulang tahunnya, wahai murid-murid dari pak guru Didin. Terima kasih telah menyampaikan salam mereka melalui tulisan surat ini ke saya. Ini adalah delapan surat ucapan istimewa.

Oleh: Japlin, kelas 5 SD
“Bulan”

Bulan..
Dikala menjelang malam
Engkau tampak malu-malu
Diatas awan
Engkau rela menerangi alam semesta ini
Engkau selalu kupandangi

Salam dan gambar dari Aldi
Salam dan gambar dari Aldi

Komentar

comments

Leave a Reply