Filosofi Induk Ayam

Hari ini Jumat, 11 Januari 2013. Membuka televisi dan mendapatkan pembahasan menarik dari seorang perempuan. Dia mampu menggerakkan warga desa untuk mendapatkan cita-citanya yaitu air bersih. Air bersih di desa ini merupakan barang mewah karena sulit untuk didapatkan. Perlu proses menempuh jarak 23 Km dulu jika ingin mendapatkannya. Cukup berat jika dibandingkan dengan fasilitas yang kita dapatkan disini. Mari kita melihat kunci keberhasilan beliau di desa tersebut tentang air bersih.

Menurut beliau ini seperti filosofi induk Ayam. Seekor induk Ayam dalam mengerami telurnya tidak mengerami begitu saja secara terus menerus. Dalam proses pengeraman, sang induk Ayam sesekali keluar dari kandang untuk mencari makan dan memutar telurnya agar hangat yang didapatkan di setiap sisi telurnya merata. Hingga akhirnya sang induk Ayam hanya memerlukan satu sentuhan kecil di cangkang telur dan mendapatkan anak Ayam yang merangkak keluar dari telur perlahan dengan sendirinya.

Induk Ayam mengeram
Induk Ayam mengeram
Induk Ayam membolak-balik telurnya
Induk Ayam membolak-balik telurnya
Anak Ayam menetas dan mandiri
Anak Ayam menetas dan mandiri

Banyak yang bisa kita pelajari dari filosofi induk ayam ini. Misalnya, kita tidak perlu mengawasi sebuah pekerjaan secara terus menerus. Pekerjaan masyarakat yang di awasi terus menerus akan tidak efektif karena merasa tertekan. Di satu sisinya, masyarakat akan merasa manja dalam bekerja jika diawasi terus menerus karena berpikir akan dibantu jika dia mengalami kesulitan. Pengawasan lebih baik dilakukan sesekali lalu kemudian di berikan pula motivasi kepada masyarakat tersebut, agar semangatnya dalam bekerja bisa terjaga. Hingga akhirnya hasil yang diinginkan bisa didapatkan dan masyarakat dapat mandiri.

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.