Hanya Ingin Lebih Sederhana

“Selamat ulang tahun, nak”, bisik ibuku di depan kasir sebuah restoran cepat saji.

Restoran cepat saji
Restoran cepat saji

Beliau mengeluarkan uang pecahan seratus ribu rupiahnya sebanyak 2 lembar. Beliau ternyata memesan sebuah paket besar yang berisi 3 ayam goreng tepung, 3 nasi dan 3 minuman. Paket besar ini akan dikonsumsi oleh keluarga saya yang terdiri dari ayah, ibu dan tiga orang anaknya (saya, adik dan adik). Sungguh sebuah makanan yang sangat mewah untuk keluarga ku yang sederhana ini.

Ibuku hanya seorang guru di sekolah swasta. Ayahku hanya seorang pensiunan. Mereka berdua sedang menghidupi tiga orang anak dengan kebutuhan pendidikan yang sedang berjalan. Malam ini mereka sempat merayakan ulang tahun salah satu anaknya, anak pertamanya. Padahal, menurut penanggalan, waktu gajian mereka masih lama. Kalaupun telah gajian, itupun tidak seberapa hasilnya. Semua langsung tersisihkan untuk kebutuhan bulanan rumah tangga dan pendidikan. Untuk hidup bermewah-mewah akan sedikit disingkirkan. Kita sadar diri dengan kemampuan yang ada. Saya lebih senang hidup begini, lebih sederhana.

Tapi tidak untuk malam ini. Kami sedikit mengkonsumsi makanan yang saya golongkan mewah. Saya golongkan mewah karena dengan dua lembar uang pecahan seratus ribuan ini saya bisa mendapatkan 10 nasi bungkus Pak Subekti. Warung makan yang sesuai dengan isi kantong mahasiswa. Menunya lebih beragam dan memiliki nasi yang banyak. Intinya lebih mengenyangkan. Berbeda dengan disini, kebutuhan perut tidak terpenuhi karena harganya jauh berbeda dan tidak bersahabat.

Saya bertanya, “kenapa kita makan disini? Disini mahal, ibu”.

Jawabannya hanya sederhana, “hari ini adalah ulang tahunmu, anakku. Sekali-kali kau berhak mendapatkan hal yang istimewa”.

Saya hanya terdiam. Kemudian saya berpikir, dibalik keterbatasan yang dimiliki sebuah keluarga, ternyata mereka tetap berpikir hal yang terbaik untuk anaknya. Bagi keluarga yang lain, ini adalah hal yang biasa di konsumsi dalam sehari-hari mereka. Bagi keluarga saya, ini adalah sebuah kemewahan. Makanan seharusnya hanya sebuah kebutuhan. Saya khawatir ini akan menjadi kebiasaan dan menjadi bentuk perubahan antara kebutuhan dan keinginan manusia. Saya menghindari hal itu, dan itu pula yang menjadi alasan tidak menyukai kebiasaan makan di restoran cepat saji. Sepertinya, kali ini saya harus mengecualikannya.

Malam ini saya sangat menghargai sebuah perayaan kecil yang mereka coba bangun. Terima kasih untuk perayaan makan malamnya, ayah dan ibu. Tahun depan saya ingin merayakan hari ulang tahunku di rumah saja. Sambil ditemani masakan-masakanmu yang mampu membangunkanku saat pagi, ibu. Itu sudah jauh berarti dan memberikan arti kebahagiaan dari sudut yang sederhana.

Komentar

comments

2 thoughts on “Hanya Ingin Lebih Sederhana

    • Dimas Prakosooo Post authorReply

      Nice goreng (red: nasi goreng) buatan ibuku memang enak, om. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.