Janji Laki-laki dan Perempuan yang Menunggu

Percakapan singkat namun padat telah terjadi pada salah satu ruas jalan di kota. Siang tadi saya sempat berjanjian dengan salah satu perempuan untuk bersama ke salah satu acara. Saya berjanjian untuk bertemu di sebuah pertigaan yang memiliki jembatan. Berjanjian dengan mengucapkan satu waktu untuk bertemu. “Jam 4 sore”, kataku. Dan, waktu pun berlalu.

Sekarang, saya masih dirumah. Jarum pendek pada jam tangan sudah hampir pas menunjukkan di angka 4 dan jarum panjang sudah berada di angka 11. Ternyata saya sudah terlambat! Dengan segera kupacu sepeda motor merahku untuk menuju tempat pertemuan yang dijanjikan. Dijalan saya sudah seperti orang yang sedang tidak tahan untuk ke toilet. Sedikit kencang di jalanan. Alhasil saya sampai di tempat janjian kami pada pukul 4.30 sore. Dia telah menunggu selama setengah jam disini. Dia perempuan, dan telah ku buat menunggu. Sungguh hina lelaki yang tidak tepat janji. Sayalah lelaki yang tidak tepat janji. Sesampai disana segera ku ucapkan mantra untuk orang yang telah dibuat menunggu, “maaf”. Mantra andalan karena terlalu sering membuat menunggu.

Ketika kami bertemu dan berangkat ke tempat selanjutnya, tidak banyak dialog yang dilakukan. Saya diam. Dia diam. Kita diam karena mulai menilai satu sama lain, mungkin.

Di tempat tujuan kita tak ada pembahasan mengenai “keterlambatan”. Kita mulai menyatu dengan lingkungan tempat tujuan kita ini. Disini kita diwajibkan untuk ramai dan ceria. Topeng bergambar senyum bukan penyamaran sulit untuk kita hingga acara selesai.

Senja
Senja

Di saat pulang, di perbatasan antara sore dan malam kita mulai percakapan kembali. Tempatnya masih diatas kendaraan roda dua ku. Pertanyan awal keluar dari saya, orang yang bersalah.

“Kenapa tidak memberi kabar kalau sudah lama menunggu?”, tanyaku.

“Saya hanya mau melihat orang yang menghargai janji”, jawabnya singkat.

Jawabannya tidak sesederhana yang terdengar. Jawabannya malah lebih seperti menampar. Menampar dengan kata-kata. Saya hanya terdiam, namun mencoba menerjemahkan lebih jauh atas jawabannya itu.

Dia ternyata adalah salah satu orang yang percaya bahwa suatu hari nanti akan menemukan orang yang menghargai waktu. Orang-orang yang tidak akan memberikan waktu untuk orang lain menunggu. Menurutnya, orang yang telah membuat menunggu adalah orang yang tidak menghargai orang yang lainnya karena tepat waktu. Ini tentang janji saya sore tadi. Aktornya sangat jelas tergambarkan. Saya sebagai orang yang tidak tepat waktu. Dia sebagai orang yang telah menunggu.

Sebenarnya saya masih tidak percaya kalau masih ada yang tepat waktu. Menurutku yang tepat waktu hanya Matahari dan Bulan. Mereka datang dan tak pernah terlambat datangnya. Selebihnya tidak ada lagi yang bisa tepat waktu didunia ini (selama saya temukan). Kapal, pesawat, upacara, jam masuk, kuliah, kerja dan lainnya tak ada yang tepat waktu. Sekarang teori lamaku yang ini telah terbantahkan. Saya telah menemukan salah satu orang yang masih berusaha untuk menepati janji dengan waktu. Dia adalah perempuan.

Saya lelaki yang telah membuat perempuan untuk menunggu. Sekarang diajar untuk menepati janji dengan waktu. Mulai sekarang izinkan saya berteman dengan waktu. Mulai sekarang saya akan berjanji bahwa tidak akan ingkar janji dengan waktu (lagi).

Komentar

comments

2 thoughts on “Janji Laki-laki dan Perempuan yang Menunggu

  1. bungatongeng Reply

    Ow ow ow…meski tepat waktu, tapi jangan salah tempat yaah? Teringat saat kamu nunggu di McD Pettarani, sementara kita kopdarnya di McD Alauddin.

    • Dimas Prakosooo Post authorReply

      Kemarin cuma fokus dengan waktu, tempat kumpul jadi salah. :))

Leave a Reply

Your email address will not be published.