Jarak

Jarak

 

Hey objek rindu paling jitu.

Boleh menitipkan beberapa pinta dan tanya? Khawatir sedang mengalir karena kabar darimu pun belum juga hadir. Jarak seperti bisa membombardir, hingga seisi penjuru hati ketar-ketir. Bisakah telepatikan dirimu ketempat kakiku berpijak? Jika semesta menyetujuinya, aku pasti takkan mau beranjak. Rinduku beranak pinak, bertemu adalah satu-satunya pintaku kelak.

Hey kamu, pemilik nama yang berputar-putar terus dalam tempurung kepala. Adakah debar ini menggema hingga ke sana? Asal kamu tahu, senyummu itu candu. Memandu ekor mata ke arahmu, mencipta berjuta-juta percik rindu. Sungguh, betapa bertemu denganmu adalah yang selalu kutunggu-tunggu. Semoga aku bukan dianggap pengganggu, sebab rasa ini terlalu membelenggu.

Seperti hari-hari biasanya, rinduku selalu kalah oleh sesuatu yang senantiasa berada di antara kita. Rinduku enggan untuk mengalah, pun untuk sekadar membiarkan pikiranku menyerah. Ia mendambakan sebuah pertemuan, di mana aku dan kamu saling berbagi peran. Pada setiap kecilnya kesempatan, ia selalu menaruh harapan.

Seperti hari-hari biasanya, rindu ini hati-hati meniti jarak yang kita bentang bersama. Setiap hari, sedikit demi sedikit, melahap jarak-dan waktu dengan doa-doa yang kemudian menua dalam air mata. Aku tak akan menyerah pada jarak, kamu pun tidak ingin dikalahkan waktu. Kita bertaruh dengan tuhan, bahwa jarak hanya ujian—bukan awal perpisahan yang kelak melahirkan ketiadaan.

Jarak itu pengarak rindu. Dan rindu seperti perantara aku dan kamu. Mereka seperti kado istimewa dari pencipta. Lewat jarak, rindu merangkak. Meskipun kepastian belum ada di tangan, tapi rindu bisa kupertahankan. Untuk mendekatkan kita yang berjauhan. Mungkin banyak yang menyepelekan perasaanku. Katanya sia-sia menunggumu. Tapi setidaknya, rindulah guru yang mengajariku untuk sabar menunggu.

Semestinya Tuhan membuat hati kita berikut tombol pengaturnya, sehingga rindu tak perlu berlebihan melebihi porsinya. Aku tak tahu apa yang meracuniku. Seolah setiap pejam seperti sia-sia, sebab bayangmu ada di balik kelopak mata. Seolah setiap tarikan nafas terlampau sesak, sebab gemuruh dada terus mendesak. Tahukah kamu? Bahkan sebuah pesan balasan dengan ajaib bisa meyakinkanku bahwa kita berdua mengamini doa yang sama. Semoga benar begitu adanya.

Meski ragu pernah datang dan memorak-porandakan hati yang sudah sepenuhnya berserah. Yang jelas aku di sini sedang menggenggam erat percaya, bahwa selanjutnya kita bisa terus melangkah bersama. Di antara doaku dan doamu yang sedang menuju pada Sang Maha, harapan sedang tergantung tinggi di sana, menunggu untuk dijadikan nyata.

Maka mengalirlah di air mataku, kamu yang selalu mengisi malamku. Hiduplah dalam kata-kata, kamu yang menghangatkan doa-doaku. Kuatkan dada ini, dermaga yang akan jadi tempat lelahmu berlabuh. Mengikatlah sauhmu pada lingkaran tanganku, dimana pelukan yang senantiasa kuimpikan, kita wujudkan menjadi selamanya.

Entah apalagi yang bisa ku percayai lewat jarak yang membatasi. Mana kutahu soal gerak-gerikmu di detik yang siap berlalu? Mana bisa ku terima pelukan pereda kesesakan? Mana bisa menahan ingin dan angan yang terus berhamburan?

Tapi aku hanya bisa mempercayai hati yang kerjanya hanya bisa mencintai. Aku hanya bisa mengiyakan segala kemungkinan dan menaruh doa hanya pada Tuhan. Lalu apa lagi selain kerjasama semesta yang siap berkonspirasi. Perlu kau tahu, adamu bisa menyentil rindu hingga ke samudra terluas itu. Bisakah kau mewujudkan itu?

Biarkan aku menghafal bekas langkahmu, jejak dari apa yang mungkin kusebut penyebab rindu. Biarkan aku mengingatmu lekat-lekat. Sambil dalam hati, aku mengeja namamu lambat-lambat. Kupanggil pusat rasamu mendekat, agar rindu yang terasa tak lagi mempunyai sekat. Dari jauh aku menanti, apa yang sanggup kamu berikan sebagai jawaban dari hati.

Jika kelak raga saling bertemu, jangan biarkan bibir saling membisu. Lunasi hutang rindu itu. Bayar dengan semua persediaan waktu. Sebab tak pernah ada peluk yang cukup erat untuk rindu yang terlanjur mengikat.

Biarkan aku terus menunggu tanpa ragu, biarkan aku terus berharap untuk satu sebab; dan sudah kamu ketahui jawaban di balik setiap mengapanya. Jarak memang seharusnya tidak begitu menakutkan. Karena kenyataannya, kamu tidak pernah menjadi lebih jauh dari pikiran. Kamu memenuhi dan mengelilinginya, namun selalu sanggup membuatku merasa nyaman.

Penantianku selama ini, telah memberiku terlalu banyak. Suatu hari nanti, mungkin aku tak mampu lagi menahan sesak. Sedemikian rindu, semakin sendu. Pilu menoreh badan, sedu makin sedan. Aku mau kamu, dan hanya mau kamu.

Datang dan berpeluklah, jangan biarkan para camar mengejekku setiap pagi. Kembali dan tinggal, jangan biarkan malam-malam kuhuni sendiri. Suatu hari nanti, tiada lagi kekuatan yang mampu menahan, keberadaanmu yang hanya dalam angan, ketiadaanmu dalam pelukan.

Jika menunggu adalah pilihan satu-satunya, aku rela. Jika sepi sudah mulai menghuni, jangan gengsi untuk mencariku terlebih dahulu. Jika tak punya ruang untuk sekedar mencari tenang, kau tahu kemana harus pulang. Karena kepulanganmu adalah tiket kebahagiaanku. Jarak membisu di perempatan waktu, menunggu kita secepatnya menyusun temu.

Kukira mustahil mewujudkan hal yang semula nihil, Seperti halnya debar yang tak mau mengecil, sejak hatiku kamu ambil. Dan rencana-rencana yang kita susun demi sebuah pertemuan, semoga akhirnya mewujud jadi kebahagiaan. Jarak tak pernah nyata. yang nyata hanyalah rindu kita. Semoga segera tiba saatnya, ketika tak lagi ada sendu di sela-sela nafasku, sebab ada hadirmu di situ.

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.