Kamu Bagian Didalam Rencana

Selamat malam, kamu

Maaf baru sempat menyapamu kembali melalui surat elektronik ini. Seminggu terakhir Mas sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan yang menumpuk. Jika kamu ingin cemburu dengan pekerjaanku silahkan,  Itu hakmu. Mas tidak keberatan, tapi Mas akan keberatan jika surat ini tidak kamu balas secepatnya. Hak ku adalah ingin mendapatkan perhatianmu, meski jauh.

Apa kabarmu disana, sayangku? Semoga kamu menjawab “allhamdulillah, baik”, seperti harapanku.

Apakah makanmu lancar? Apakah obatmu tidak pernah lupa diminum? Apakah kamu masih bisa bertemu dengan pisang, buah kesukaanmu?
Tolong jangan kaget jika surat ini dipenuhi dengan tanda tanya. Begitulah pekerjaanku jika kamu tidak ada sebenarnya. Bedanya sekarang pertanyaanku sudah berbentuk tulisan, bukan hanya ada di dalam kepala.

Rencana

Keberangkatanmu kemarin memang tergolong tiba-tiba, menurutku. Tiba-tiba diterima kerjaan yang bagus, lalu harus mengikuti pelatihan kerja di luar kota. Menurutmu, ini adalah hal yang menyenangkan karena mendapatkan pengalaman baru yang tidak direncanakan. Padahal sesungguhnya semua ini merupakan rencana awalku, ingin mencarikanmu kesibukan dan tabungan pribadi, tapi sayangnya rencana tersebut agak lebih baik dari rencanaku. Diterima di perusahaan besar yang sedang ekspansi di Makassar, mendapatkan pekerjaan yang ada jenjang karinya, dan masih bagian dari disiplin ilmu di kampus. Allhamdulillah-nya lagi pekerjaan tersebut bisa membuatmu mempunyai tabungan untuk bantu sekolah adik-adik di rumah. Eh, apa kabar adik-adikmu? Tidak lupa berkabar dengan mereka juga, bukan?

Mari kita merefleksi diri. Jika sebelumnya kamu tidak suka melakukan rencana karena takut akan gagal, maka mulailah membiasakan diri untuk berencana. Jika gagal, terus permatang rencana tersebut, sayang. Jika gagal lagi, tetaplah terus melakukan rencana. Meskipun pada akhirnya Tuhan-lah yang menentukan, tapi pada dasarnya tugas manusia tetaplah melakukan rencana, bukan?

Kamu pun secara tidak sadar telah melakukan rencana. Apa masih ingatkah dirimu kalau pernah bersama-sama menyiapkan curriculum vitae dan surat lamaran yang menarik? Bukankah itu bagian dari perencanaan untuk diterima kerja?

Mempelajari soal psikotest pun juga masuk dalam bagian perencanaan untuk wawancara kerja. Buku Panduan Belajar Soal-Soal Psikotest pun bisa menjadi saksinya kalau dirimu sedang melakukan perencanaan. Jadi, sampai kapan kamu tidak percaya akan rencana, sayang?

Sampai  sekarang Mas masih percaya sama rencana. Masih sama seperti 7 hari lalu saat pembahasan tentang rencana selalu kamu remehkan, dan lebih menyukai dengan kegiatan spontan yang kamu temukan. Mas masih suka berencana karena kamu bagian didalamnya.

Yakin, kamu nggak mau menjadikan Mas sebagai bagian dari rencanamu juga?

Kalau nggak mau, yaa sudah deh. Jaga kesehatanmu disana, yah. Tolong balas surat ini secepatnya.

 

Tertanda

Pria perencana


Dapatkan info seputar Makassar lainnya langsung di akun LINE kalian. Klik gambar dibawah ini

Social media di makassar

Summary
Review Date
Reviewed Item
All in One Schema.org Rich Snippets
Author Rating
51star1star1star1star1star

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.