Layang-layang, Riwayatmu kini

Siang ini saya melewati sebuah jalanan yang agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Disisi kirinya terdapat tanah lapang. Penuh rumput dan masih kurang bangunan di sekitarnya. Ini seperti fenomena alam yang langkah, terlebih ini masih berada di kota.

Saya berhenti, dan turun dari vespa merah yang ku tunggangi. Melompati gorong-gorong kecil dan berteduh di bawah pohon Mangga yang terletak di pinggir lapangan. Saya senang menikmati sesuatu yang sudah jarang terlihat. Termasuk tanah lapang di kota ini. Di ujung lain tanah lapang ini terlihat beberapa anak kecil sedang bermain laying-layang. Bermandikan sinar matahari dan hanya berlindung pada bayang awan. Mereka menikmati permainan yang sudah jarang dimainkan ini. Layangan memang salah satu jenis permainan yang hanya bisa dilakukan di daerah yang terbuka. Terbebas dari gedung-gedung tinggi.

Anak bermain layang-layang
Anak bermain layang-layang

Saat ini layang-layang sangat sulit dimainkan lagi. Semua dikarenakan tanah lapang semakin menyusut jumlahnya. Semua telah berevolusi menjadi gedung-gedung tinggi. Anak-anak pun tak punya ruang untuk berlari dan menerbangkan layang-layang yang dia beli atau di buat sendiri.

Saya masih ingat, beberapa tahun yang lalu masih sempat bermain layang-layang di daerah tempat tinggalku di kota. Daerahnya masih menyediakan ruang untuk menerbangkan layang-layangku di angkasa. Sekarang saya telah pindah dari tempat tinggalku yang dulu. Sempat sesekali lewat ke tempat tinggal yang dulu. Kutemukan semua sudah berubah menjadi barisan rumah toko (ruko) berlantai dua. Tidak kutemukan lagi adik-adik kecil sekitar sini yang memainkan layang-layangnya. Mereka sudah berpindah tempat ke tempat lebih sejuk yang dinamakan warung internet. Saya hanya khawatir kalau mereka akan melupakan keberadaan layang-layang. Permainan yang bisa membuat warna kulitmu menjadi coklat karena terbakar sinar matahari. Permainan yang bisa membuat kau melupakan jam makan siangmu karena layang-layang telah mengudara.

Saya sekarang malah khawatir hilangnya layang-layang dilangit akan ditutupi dengan dibuatnya permainan game layang-layang di layar komputer. Seperti menutupi rasa kehilangan kita tentang permainan ini. Tentu saja semuanya adalah hal berbeda bagi kita yang telah pernah memainkannya dilapangan dulu. Cara agar permainan ini tetap di ingat oleh anak cucu kita nanti adalah menjaga adanya lapangan atau taman di kota untuk media bermain layang-layang tersebut. Kita hanya perlu menyisihkan tempat sedikit untuk lahan publik agar tidak dialih fungsikan menjadi bangunan. Sekali lagi akan sangat berbeda jika kita memainkan layang-layang langsung dilapangan dan hanya duduk diruangan (memainkan layang-layang dalam bentuk game online).

Mari kita tidak melupakan adanya layang-layang dengan menjaga adanya tempat bermain layang-layang itu sendiri. Tempat bermain layang-layang itu lapangan, bukan jalanan. Alasanku tidak melupakan layang-layang adalah karena mereka mengajarkan untuk bermimpi. Siapa yang sangka bahwa benda yang memiliki keterbatasan itu bisa terbang. Perhatikanlah layang-layang yang hanya terdiri dari rangkaian bambu tipis dan disatukan oleh lembaran kertas. Mereka tak punya sayap dan tak punya mesin, tapi bisa terbang tinggi. Semua karena layang-layang mempunyai mimpi tanpa ingin terjebak pada kekurangan dalam diri. Semoga anak-anak itu bisa belajar dari dirimu, layang-layang. Semoga pula mereka tidak melupakan keberadaanmu yang kian terkikis oleh perkembangan wilayah perkotaan, wahai layang-layang.


Dapatkan info seputar Makassar lainnya langsung di akun LINE kalian. Klik gambar dibawah ini

Social media di makassar

Komentar

comments

2 thoughts on “Layang-layang, Riwayatmu kini

  • 17/03/2013 at 8:23 AM
    Permalink

    sedih yah mas lihatnya, sepertinya semua hal akan menjadi sebuah tempat, setiap tempat akan mengubur satu kenangan.

    Reply
    • 17/03/2013 at 1:49 PM
      Permalink

      Kenangan yang ini dihasilkan dari perkembangan zaman. Belum ada orang yang sadar dan mampu menghadirkan kenangan bermain layang-layang di lapangan lagi.

      Semoga masih ada lapangan di kota kita berada.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.