Mari Menjadi Bayi

Pagi tadi saya melihat seorang bayi berumur 12 bulan sedang belajar berjalan. Bayi itu perempuan. Ibunya memanggilnya “dek” karena dia anak kedua dari dua bersaudara. Dia sudah mulai bisa berdiri dengan menggunakan lutut sebagai tumpuannya. Menggunakan kaki kursi sebagai pegangannya untuk melihat lantai dari sudut yang lebih tinggi.

Selangkah sudah bisa dilakukan meski dengan terpatah-patah. Si bayi masih terlihat berdiri. Mukanya masih penasaran ingin menjejakkan kaki diteras rumahnya. Si ibu masih senyam-senyum tidak karuan melihat perkembangan bayinya belajar berjalan. Dilangkah kedua bayi itu terlihat masih dengan cantiknya berdiri. Dilangkah ketiga bayi itu tiba-tiba terjatuh. Dia sepertinya terlalu berlebihan dalam menikmati langkah-langkah yang ada. Dia lupa untuk menyeimbangkan badan. Popok tebal ternyata juga bisa menjadi pelindung jika dia terjatuh.

Perempuan muda ini jatuh dan memperhatikan sekeliling. Keluarganya yang lain kaget dan ingin mendekatinya. Ibunya melarang dan berkata, “biarkan dia belajar”. Bayi ini awalnya menangis, namun melihat tidak ada yang merespon tangisannya akhirnya dia menghentikan tangisannya dan berdiri kembali. Berdiri untuk menyiapkan pelajarannya kembali, pelajaran berjalan. Sebelum berdiri, si bayi sempat terdiam, mungkin dia berfikir untuk melanjutkannya atau tidak. Ternyata dia berhasil mengalahkan rasa takutnya dari jatuh tadi. Setelah terjatuh tadi, beberapa kali bayi itu terjatuh lagi dalam proses pembelajarannya dan dia selalu berdiri untuk melanjutkannya kembali

Pagi itu si bayi telah menjadi seorang pencerah. Dia mengajarkan untuk tidak pernah takut gagal dalam kehidupannya. Tidak terjebak dengan hal-hal yang pernah membuatnya merasakan sakit karena terjatuh sampai menangis. Dia tidak seperti kita saat ini yang selalu memikirkan kegagalan terlalu lama dan membuat kita pesimis.

Bayi belajar berjalan
Bayi belajar berjalan

Kadang kita juga harus seperti bayi. Polos dalam melihat semuanya. Polos dan selalu ingin mencoba kembali jika telah gagal. Gagal yang dibahas saat ini adalah gagal yang memiliki arti lebih luas. Gagal dalam bercinta, gagal dalam kehidupan, gagal dalam pelajaran, gagal dalam bisnis merupakan kegagalan yang sering kita dengar sepanjang hari ini.

Saya sering mengartikan takut dalam menghadapi kegagalan adalah bentuk ketakutan semu. Ketakutan yang tidak nyata yang bisa dihasilkan dari pengalaman. Pengalaman mampu membuat kita memikirkan “jika kita melakukan hal yang sama maka kita akan mendapatkan hasil yang sama”.

Saya pernah membaca buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Di buku itu sempat diceritakan tentang cara menghadapi ketakutan. Caranya cukup sederhana, jika kita menghadapi ketakutan itu mari memikirkan “bagaimana jika tidak terjadi?” Pengalaman gagal telah membuat alasan gagal selalu hadir, ketika kita memikirkan “bagaimana jika kegagalan itu tidak terjadi?” tembok ketakutan itu akan runtuh dengan sendirinya. Disini kita diajak berpikir lebih polos seperti bayi yang tidak memikirkan kegagalan. Mari menjadi bayi dan berpikir lebih sederhana tanpa takut untuk gagal.

Komentar

comments

3 thoughts on “Mari Menjadi Bayi

  1. @damae53 Reply

    mari menjadi bayiiii, ^_^
    hihih

    betul sekali, bayi tidak pernah kenal takut apalagi menyerah! #karna memang dia belum tahu #nahlho, :)

    nice sharing,

    • Dimas Prakosooo Post authorReply

      Terima kasih dan mari menjadi “bayi”. :)

  2. Noni Rosliyani Reply

    Paling asik jadi anak-anak.
    Enggak perlu mikir bayar tagihan, atau besok makan apa.
    Semua udah dipikirin orangtuanya. :)))))

Leave a Reply

Your email address will not be published.