Menjauhlah!

Dear Kamu!

Cukup! Saya sudah tidak tahan untuk bersembunyi lagi. Rasa yang kamu berikan ini sedang pada masa-masa kritisnya. Selama beberapa waktu kemarin saya adalah gunung berapi yang non aktif, tapi tidak lagi untuk sekarang. Dulu saya adalah seorang lelaki pendiam, yang menikmati semesta ini dengan apa adanya. Tapi, saya kini telah berubah menjadi seperti gunung berapi yang sedang bergejolak. Ada bagian dari inti kehidupan ini yang membuatku ingin bereaksi hebat seperti ingin meledak pada beberapa waktu kedepan. Inti kehidupan itu ku namakan hati. Hatiku sedang menunjukkan sifat alaminya, dan semua itu karena kamu!

Anggap saja surat ini adalah surat ancaman. Sebagaimana Badan Penanggulangan Bencana Nasional memperingatkan semua warga desa untuk mengungsi, dan menjauh dari bencana yang akan terjadi. Kamu, segeralah mengungsi dan menjauh sejauh mungkin. Saya khawatir akan ada dampak buruk dari fenomena alamiah manusia ini.

Apa kedengarannya menakutkan? Yah! Saya memang adalah sosok yang menyeramkan jika sedang jauh darimu. Tanpa sadar kamu telah ciptakan endapan perasaan seperti magma yang akhirnya menghasilkan tekanan tinggi. Mungkin tidak kamu sadari bahwa endapan perasaan itu hadir karena kurangnya intensitas temunya kita, dan proses berkirim kabarnya kita. Sekarang tekanan tinggi itu menghasilkan tulisan ini, sayang.

Cukup sampai disini saja! Mari kita sudahi hubungan kita yang tidak ada kata romantisnya pada belakangan ini. Saya tidak mau melanjutkannya.

Tahukah kamu kalau dikepalaku selalu dipenuhi oleh kamu. Biasanya kita selalu bertegur sapa setiap pagi, tapi beberapa hari ini tidak lagi. Biasanya kita bertemu setidaknya sejam lebih, tapi kini tidak lagi. Biasanya kita saling mencari, tapi beberapa hari ini tidak ada yang mencari. Biasanya kamu yang memulai mengirim kabar, kemudian berubah hanya saya, dan yang terakhir tidak ada diantara kita memulai. Kutunggu kabarmu, tapi ternyata tetap tidak ada. Kebiasaan kita di beberapa hari terakhir inilah yang ingin kuubah.

Kumpulan surat cinta

Menjauhlah! Menjauhlah dari kebiasaan jauh dariku.

Kuingin kita kembali dekat seperti dulu. Dekat sebagaimana hubungan gunung merapi dan semestanya. Aku adalah gunung merapi, dan kamu adalah semestaku. (seharusnya) diciptakannya kita untuk selalu berdampingan, bukan berjauhan tanpa alasan seperti ini. Mari merubahnya seperti sediakala.

Mari kita memulainya dengan sebuah pertemuan. Kapan kamu punya waktu untukku? Semoga besok sore kamu mempunyai waktu itu. Kita bertemu sepulang kerja di penjual es buah favoritmu sambil berbuka puasa. Tolong jangan ditolak ajakanku yang ini, yang ingin dekat denganmu kembali.

Tertanda

Lelaki yang sedang rindu denganmu


Dapatkan info seputar Makassar lainnya langsung di akun LINE kalian. Klik gambar dibawah ini

Social media di makassar

Komentar

comments

Leave a Reply