Narsis Dalam Budaya Demokrasi

Tahun 2014 adalah tahun yang ditunggu-tunggu oleh semua orang Indonesia. Semua orang menunggu tahun 2014 karena akan berlangsungnya pesta demokrasi. Ajang pemilihan wakil rakyat sampai presiden sebagai pemimpin tertinggi negeri ini.

Atribut-atribut kampanye mulai tersebar sejak jauh-jauh hari. Di Makassar sendiri sudah ramai dengan segala jenis atribut kampanye dari wakil-wakil rakyat. Atribut yang sering digunakan adalah kalender, stiker, baliho, spanduk, hingga nge-branding mobil. Mereka tentu berlomba-lomba untuk dikenal oleh calon pemilihnya. Foto mereka semakin tersebar disetiap sudut kota. Tentu ini juga semakin terlihat narsis bagi saya. Narsis adalah proses mencintai diri sendiri yang berlebihan. Cenderung memuji-muji diri sendiri dan selalu ingin mendapatkan perhatian dari orang lain. Kata narsis di social media sering dilekatkan pada orang-orang yang suka menyebarkan fotonya di facebook dan twitter. Apa bedanya dengan para caleg yang menyebarkan foto-fotonya dibeberapa waktu belakangan ini? Tidak ada!

Mobil narsis
Mobil narsis (sumber: makassar.tribunnews.com)

Pohon-pohon kota juga telah menjadi media kenarsisan para orang-orang yang ingin dipilih ini. Wajah ganteng dan cantik tidak segan-segan dicetak, dan ditancapkan pada pohon. Tentu ini adalah tindakan merusak lingkungan. Belum lagi jika tinggal dikota dan menemukan kendaraan-kendaraan para caleg yang branding mobil dengan foto-foto mereka. Mungkin ini adalah kegiatan untuk menemukan mobilnya dengan cepat jika sedang memarkirkan kendaraannya, atau mungkin ini juga adalah bentuk ketakutan jika kendaraannya tertukar dengan kendaraan yang lain. Tentunya ini adalah salah satu kegiatan paling narsis untuk seumuran mereka.

Sekarang kita kembalikan lagi kepada mereka sebagai pengambil strategi kampanye narsis. Tentunya semua yang mereka lakukan adalah sebuah akibat dari keinginan untuk mendapatkan suara rakyat. Ini menunjukkan bahwa menonjolkan diri sendiri sebagai yang terhebat sudah menjadi kewajiban bagi mereka. Kita sebagai masyarakat juga mempunyai hak apakah akan memilih orang-orang narsis seperti ini. Orang-orang yang narsis, yang datang hanya pada saat mereka ingin dipilih dan akan melupakan kita pada saat mereka telah duduk dikursi (jabatan).


Dapatkan info seputar Makassar lainnya langsung di akun LINE kalian. Klik gambar dibawah ini

Social media di makassar

Komentar

comments

2 thoughts on “Narsis Dalam Budaya Demokrasi

  1. Dana Reply

    Baru kepikiran, oh iya, emang narsis juga ya orang-orang yang mau mencalonkan diri itu. Gambar dipasang-pasang di pajang-pajang di jalanan. Ada yang suka nggak ya dengan gambarnya, saya kira kalau dia bukan orang yang sudah dikenal, yang munculnya waktu mau mencalonkan saja, gambar-gambar kurang begitu epektif menarik suara yang banyak

    • Dimas Prakoso Post authorReply

      Cara kampanye ini tentu tidak efektif karena hanya menghasilkan sampah visual dimana-mana. Padahal masyarakat lebih menyukai adanya interaksi langsung kepada calon wakilnya di DPRD dan DPR nanti. Entah sampai kapan konsep kampanye ini masih dianggap efektif oleh mereka dengan mencetak foto, dan disebarkannya kemana-mana tanpa menjelaskan konsep yang dibawa untuk menjadi wakil rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.