Pagi

Keluar dari kamar mandi seusai mencuci muka. Kuangkat gagang telpon rumah dan menekan urutan nomor teleponnya. “Selamat pagi, sudah siap untuk hari ini kan?”, tanyaku kepadanya. Dia adalah salah satu perempuan yang sudah lama kuajak untuk menikmati pagi di Pantai Losari. Pada hari minggu pantai Losari sangat ramai, dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai sudut kota Makassar. Mereka kesana dengan berbagai tujuan, mencari sarapan, berolah raga, berjalan-jalan, mencari pasar kaget dan lain sebagainya. Alasanku sendiri mau kesana karena mau mencari sarapan. Iya, bubur ayam di salah satu gerobak memiliki rasa yang membuatku jatuh cinta setiap hari Minggu. Minggu ini ku ajak dia kesana karena ingin kutunjukkan bahwa membuatku jatuh cinta itu sangat sederhana caranya. Sama sederhananya ketika kau selalu tersenyum ketika menyapaku. Tidak perlu cara yang dikonsep semalaman untuk membuatku jatuh cinta.

Pukul 06.30, motor vespa berwarna merahku telah kupacu menuju rumahmu. Jaraknya tak jauh dari rumahku, hanya berada di dekat perempatan lampu merah. Rumah berwarna hijau yang selalu kusinggahi ketika mengantarmu pulang kuliah setiap harinya. Pagi itu kau sudah siap, menunggu dengan duduk di depan teras rumahmu. Memakai jilbab berwarna coklat, kaos berwarna coklat dan dilapis cardigan hitam membuatmu tampil sederhana tapi tetap tidak mengurangi kadar kecantikanmu di mataku. Dia sudah tahu kalau membuatku jatuh cinta tidak perlu berdandanan mahal khas wanita metropolitan.

Beranjak dari rumahnya, jalanan mulai terlihat ramai oleh para warga yang juga bergerak ke arah pantai dengan cara berlari. Udara pagi memang sangat menyehatkan untuk berolah raga. Udara pagi juga sangat menyehatkan untuk kita yang sedang menikmati cinta semesta.

Sesampainya di sana kuletakkan motor vespa berwarna merah ku di barisan motor yang terparkir didepan sebuah ruko. Tempat itu sengaja disulap menjadi tempat parkir sementara karena pengguna sepeda motor yang datang setiap Minggu pagi selalu ramai. Penjual bubur Ayam nya sendiri berada di samping ruko, pembelinya sudah berkerumun di sekitaran gerobak. Ada yang terlihat masih memakai helm saat mengantri, mungkin lupa menyimpan helm nya di motor atau memang sudah terlalu lapar, entahlah. Yang pasti segera kuajak dia untuk mencari tempat duduk yang kosong. Dia menunggu di kursi kosong yang telah ditinggalkan penikmat bubur ayam sebelumnya. Saya pergi mengantri di barisan orang-orang lapar yang ingin menikmati bubur Ayam buatan Abah. Sesekali kulemparkan pandanganku ke tempatnya menunggu. Dia memang tampak lebih menenangkan jika dipandang tanpa balasan pandangan darinya. Dia terlihat sibuk dengan memainkan kamera DSLR miliknya dengan mengarahkan bidikannya ke pengunjung yang lain. Dia tidak sadar kalau mataku juga sedang membidiknya. Gambarnya seperti telah memenuhi isi kepalaku pagi ini dan kemarin. Jatuh cinta memang sederhana. Seperti datangnya pagi dari hasil menunggu semalaman. Kali ini kaulah pagiku. Jika senja mulai menyapa, saya akan cepat tidur agar tidak berselingkuh dengan malam. Terima kasih telah menemani.

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.