Salim Jauh, Anak Muridmu yang Kembali

Selamat pagi, ibu

Perkenalkan, aku adalah salah satu teman lelaki dari anak perempuan keduamu, bu. Aku juga adalah salah satu muridmu ketika masih berada di SMP saat 10 tahun yang lalu. Tidak menyangka aku bisa bertemu denganmu lagi, bu. Engkau masih menjadi guru favoritku hingga saat ini. Guru yang menumbuhkan minat menulisku sejak dini.

Ibu, saat ini aku masih menjadi muridmu. Lebih tepatnya aku masih ingin menjadi muridmu.  Ada pelajaran lain yang ingin kudapatkan darimu. Maafkan jika aku sangat lancang kepadamu, ibu. Ingin memohon sesuatu, tapi tidak menyampaikannya secara langsung. Mahasiswa saja jika ingin melakukan perbaikan nilai harus menghadap sendiri kepada dosennya. Karyawan pun jika ingin mengajukan kenaikan gaji harus menghadap dulu kepada atasannya. Manusia pun jika ingin sesuatu harus berdoa dulu kepada Tuhannya. Sedangkan aku, hanya seorang murid yang baru sempat menemuimu dan memohon melalui surat yang kutulis

Permohonanku sederhana, ibu. Aku ingin mengenal lebih jauh seorang anak perempuanmu. Anak perempuan yang sekarang mulai memasuki semester 4 di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Dia adalah adek tingkatku juga disana. Aku menyukainya, ibu. Aku menyukai gaya berfikirnya yang penuh dengan rasa penasaran. Jika aku melakukan sesuatu yang baru dia lihat, dia pasti langsung bertanya 5W 1H. Rasa ingin tahunya sangatlah tinggi. Katanya, dia ingin mengaitkan semua yang ada di dunia ini dengan rasionalitas pikirannya. Sebenarnya, gaya berfikirnya ini agak berseberangan dengan pola berfikirku yang lebih imajinatif. Aku lebih senang berfikir rencana, dan melakukan semua yang telah di renacanakan ini. Semua yang aku rencanakan adalah hasil imajinasiku. Aku punya rencana untuk mengenal lebih jauh anak perempuanmu ini, ibu. Dia kupilih karena mampu menyempurnakan proses rencana yang ingin dan akan kubuat. Dia kadang mampu menyempurnakan dengan kemampuan merasionalitasnya. Kadang, dia juga bisa menjadi perempuan yang ringan dalam hal bercerita, ibu. Kami kadang melakukan perbincangan ringan yang diakhiri dengan tawa. Oh, iya.. aku juga menyukai suara tawa anak perempuanmu ini. Kedua orang tuaku juga menyukainya. Kami berdua sudah sering menghabiskan waktu dengan orang tuaku, ibu. Aku kadang cemburu dengan dia karena mampu dekat dengan mudahnya dengan orang tuaku. Aku pun ingin dikenalkan dan mengenal mama papa yang telah membesarkannya. Aku tahu nama panggilan darinya kepadamu, tapi belum mampu menyentuh langsung punggung telapak tanganmu dengan keningku lagi.

Aku ingin bertemu denganmu, ibu. Aku ingin mengenal anak perempuanmu lebih jauh dari dirimu. Aku ingin menjadikanmu sosok guru untuk mata pelajaran baru yang mungkin bisa kusebut masa depan keluarga.

Kumpulan surat cinta

Surat ini aku kirimkan dari Makassar, lokasi kami berdua mengenyam pendidikan, yang berada ratusan kilometer dari rumahmu di kabupaten Bulukumba. Beberapa minggu lagi akan ada liburan semester. Aku ingin pulang kembali ke Bulukumba dan mengunjungi dirimu bersama anak perempuanmu. Semoga dirimu berkenan dengan beberapa permohonanku diatas tadi ibu.

Oh iya, ibu. Surat ini kubuat tanpa sepengetahuan anak perempuanmu.

Salim jauh,

Anak muridmu yang kembali


Dapatkan info seputar Makassar lainnya langsung di akun LINE kalian. Klik gambar dibawah ini

Social media di makassar

Komentar

comments

4 thoughts on “Salim Jauh, Anak Muridmu yang Kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published.