SDN 22 Inp Rura

Pagi pertama kami telah menyapa. Kembali menyapa pula cangkir-cangkir teh yang berbaris di atas karpet. Kami melantai di depan televisi, sedang menanti giliran untuk mandi. Berita pagi menjadi salah satu sarapan kami. Mulai berita tentang Eyang Subur sampai berita tentang Korupsi Impor Daging Sapi. Kami hanya sedikit menertawakan impor daging sapi sambil menunggu daging ikan siap dipindah piringkan. Disini kami hidup lebih sederhana dari pada di televisi. Sarapan dengan lauk telur ayam rebus, mie instant, dan ikan. Ah, ini memang jauh lebih nyaman dimakan dari pada junk food yang ada di kota, ini menurut saya.

Selesai sarapan kami sudah siap dengan rencana semalam. Mengunjungi SDN 22 Inp Rura, di Dusun Rura, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene. Tempat bertugasnya Didin. Jarak yang perlu kami tempuh adalah 20 Km dengan jalur yang menanjak. Ini bisa disebut sebuah pendakian sederhana. Kami tidak menggunakan motor, jumlah motor yang bisa digunakan terbatas, dan jumlah kami saat itu adalah 12 orang. Kendaraan yang layak tempuh adalah Hardtop. Awalnya saya sedikit bingung dengan bentuk Hardtop, tapi sesaat lagi saya akan berkenalan secara langsung.

Namanya Hardtop
Namanya Hardtop

Perkenalkan dia adalah Hardtop. Kelahiran 1977 yang masih saudaraan dengan mobil Jeep. Hardtop ini memiliki kekuatan angkut menuju Rura sebanyak 20-an orang. Kadang di gunakan sebagai transportasi di hari pasar dan membawa barang belanjaan naik-turun gunung. Transportasi umum selain ojek yang sering terlihat di Dusun Rura.

Saya sempat kaget melihat body mobil ini. Mulai membayangkan medan seperti apa yang akan kami tempuh beberapa saat lagi. Yah, benar saja, jalanan menuju dusun rura bukanlah jalanan yang rata. Masih tanah merah yang disertai kerikil lepas. Cetakan tanah terlihat, itu merupakan cetakan jalur kendaraan yang sering melewati jalanan ini. Kami berpegangan pada besi yang ada di bagian belakang Hardtop. Anehnya, malah muka semringah yang ada. Kadang wajah khawatir juga muncul sesekali. Kami khawatir karena di sebelah kiri mobil ini adalah jurang. Jurang yang tertutup oleh semak blukar setinggi 30 cm. Ketakutan akan jatuh dari ketinggian membuat pegangan kami semakin erat.

Sekitar 20 menit kendaraan berpenumpang 9 orang diikuti 3 motor yang ditumpangi Didin, Lukvi, Fajar dan Vino ini melewati medan yang katanya tergolong medium bagi penempatan Pengajar Muda V Majene. Kami sampai tepat didepan sekolah SDN 22 Inp Rura, Dusun Rura, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene. Anak-anak SD terlihat masih berkeliaran, padahal waktu telah menunjukkan jam 9. Seketika mereka berhenti berkejar-kejaran melihat Pak Didin-nya datang dengan wajah-wajah baru. Ahh.. mereka penasaran dengan kami. Didin mengenalkan kalau kami adalah orang-orang dari Makassar, daerah yang jauh dan belum pernah mereka kunjungi. Satu-persatu mereka menyalimi kami. Ini budaya yang hilang, melihat anak kecil bersalaman dengan orang yang lebih tua dengan mempertemukan dahi mereka ke telapak bagian atas orang tua ini. Saya sudah jarang melihat ini di Kota.

Penyala Makassar dan siswa SDN 22 Inp Rura
Penyala Makassar dan siswa SDN 22 Inp Rura
Penyerahan simbolik ke Kepala Sekolah
Penyerahan simbolik ke Kepala Sekolah

Sempat berbincang sejenak tentang maksud kehadiran kami sebagai Penyala Makassar kepada Kepala Sekolah dan seorang guru. Mereka senang dengan kehadiran Penyala Makassar disini. Orang yang mengumpulkan buku untuk didonasikan ke penempatan Pengajar Muda, salah satunya di Majene. Kami ditawari untuk ikut merasakan mengajar di sekolah ini. Saya dan Agrie mengajar kelas 5-6. Ica dan Nunu mengajar kelas 4-3. Dini dan Hendra mengajar kelas 1-2. Arya sendiri berkeliling ke masing-masing kelas.

Suasana Kelas
Suasana Kelas

Saya dan Agrie yang bertugas mengajar kelas 5-6 awalnya sedikit kaku. Akhirnya kami berkenalan dan suasana kelas sedikit mencair. Hari ini, di kelas telah duduk manis 13 anak, 11 orang dari kelas 5 dan 2 orang dari kelas 6. 6 buah meja dan 11 buah bangku juga menjadi bagian kelas ini. Terlihat 2 orang anak duduk berpangkuan karena jumlah kursi yang kurang. Dipojok kelas memang terpajang sebuah kursi yang kakinya tak utuh lagi. Seperti mengimbangi pemandangan sekolah yang dindingnya berlapis papan dan sebagiannya dilapisi oleh tumpukan batu bata tak tertutup semen disisi kiri kanannya. Agrie mengajarkan mata pelajaran IPA, dan saya mengajarkan Bahasa Indonesia. Dua pelajaran ini yang difavoritkan waktu itu. Mereka dikenalkan tentang lensa, dan dipraktekkan oleh kamera yang dibawa oleh Agrie. Saya menilai tulisan mereka.

Dikelas yang lain terdengar sorak-sorak dari kelas Ica dan Nunu yang berkenalan dengan yel-yel mereka. Dikelas sebelah terasa lebih hidup. Dikelas yang lainnya, anak-anak di ajak untuk menggambar dengan bimbingan oleh Dini dan Hendra. Di setiap kelas kami menanyakan cita-cita mereka. Kebanyakan jawabannya ingin menjadi Pengajar Muda seperti Pak Didin dan teman-temannya.

Bermain bersama
Bermain bersama

Kelas telah selesai, anak-anak belum ingin pulang. Mereka mengajak bermain “Domikado”. Permainan Tradisional yang sudah lama tidak saya mainkan. Sekali lagi kami tertawa bersama. Tertawa lebih polos seperti anak-anak.

Kami diajak mengunjungi rumah Didin, Rumah ayah angkatnya Didin. Kami masih dikelilingi oleh anak-anak berseragam pramuka. Mereka mengambil tangan kami, mengajak untuk merangkul mereka. Tidak jarang ada yang tiba-tiba memeluk saya dan yang lainnya dari belakang. Pada saat itu saya membawa spanduk yang terlipat dan sebuah buku kecil untuk mencatat perjalanan ini, tiba-tiba Aldi, siswa kelas 5 mendatangi saya dan meminta untuk membawakan bawaan saya. Di pelukan lengan sebelah kanan saya sudah di isi oleh siswa kelas 5 juga, namanya Japlin. Kedua Siswa ini tidak pernah lepas dari sekeliling saya sampai kembali ke Hardtop untuk “turun gunung”, pulang kerumah Kepala Sekolah untuk bersiap Shalat jumat.

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.