Menunggu

Dear Perempuan yang menunggu,

Hari ini telah kulakukan kepadamu hal yang dibenci semua orang, dibuat menunggu. Aku pun menjadi salah satu orang didunia yang sangat tidak menyukai kata menunggu. Bukannya karena kita tidak bersifat sabar, tapi karena ini adalah kegiatan yang telah berulang dengan alasan yang sama.

Iya, ku akui kalau telah membuatmu menunggu. Tak sengaja seperti alasan lain yang telah dikeluarkan sebelumnya. Hanya kata maaf yang mampu menutup kalimat salah. Entah sudah berapa kali menunggu telah menjadi pekerjaanmu. Pekerjaan yang mampu menghasilkanku. Hari ini terlambatku karena sebuah pekerjaan kantor yang tidak mampu kuprediksikan selesainya. Ada tuntutan dari kewajiban yang harus kukerjakan sebelum meninggalkannya dan menuju kamu yang sedang menunggu.

Seharusnya pengalaman mengenalmu selama beberapa bulan terakhir mampu kujadikan pelajaran kalau kamu type yang agak cepat bosan. Menunggu memang produsen terbaik untuk kata “bosan”. Seharusnya kutahu itu. Seharusnya sudah kupelajari itu darimu.

Seandainya menunggu melekat kepadaku tentu kebosanan pun akan ikut mendekati. Sepertinya sebelum kita memperlakukan sesuatu kepada orang lain, kita harus membalikkan dengan kita terlebih dahulu. Kalau menunggu itu tidak kusuka, berarti orang lain juga tidak suka jika dibuat menunggu. Konsep ini yang kulupa.

Semoga pelajaran ini tidak terlambat untuk hubungan kita yang terlalu banyak diisi dengan kata “menunggu”. Semoga kamu masih menerima surat ini yang akan kuakhiri dengan kalimat, “maaf telah membuatmu menunggu lagi hari ini”.

I am sorry

Tertanda

Pria yang membuatmu menunggu

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.