Senyummu seperti Coklat

Dear @RifahSakinah

Pernahku berpikir, bisakah kita menghabiskan waktu bersama lagi? Di tempat yang sama, di meja yang sama, minuman yang sama saat kita pertama ketemu, namun dimalam yang berbeda. Semacam melepas ingatan nostalgia kita dulu atau melepas rindu dirimu, biar kau yang artikan. Pastinya saya punya alasan kuat tentang pertemuan kita nanti.

Salah satu alasan kuat untuk kita bertemu lagi yaitu tidak bisa kutemukan dibibir perempuan lain senyum yang sama dengan senyummu. Kecil, manis, tapi sangat menggigit ketika dilihat. Ini bukan slogan iklan coklat, loh! Kita masih bicara tentang senyummu.

Senyummu memang lebih seperti coklat. Agak mahal, jarang terlihat, tapi ketika telah terlihat akan ketagihan. Seperti itulah saya sekarang. Ketagihan dengan senyummu. Jika Tuhan merupakan pedagang coklat, Dia pintar memainkan perasaan konsumennya. Sayalah korban senyuman yang sebagai konsumen.

Mau membantah analogi “Tuhan sebagai pedagang senyumanmu”? Sekarang mari bertemu di cafe kemarin, di jam yang sama, sekedar membuktikan kalau senyummu bisa kulihat lagi dan tidak mahal.

Tertanda
Teman barumu

Komentar

comments

2 thoughts on “Senyummu seperti Coklat

Leave a Reply

Your email address will not be published.