Bahagia Sifatnya Menular

Kamis, 28 Maret 2013. Menurut penanggalan Kelas Inspirasi Makassar, hari ini adalah Hari Inspirasi. Hari yang pekerja-pekerja profesionalnya berkeinginan cuti dari pekerjaannya dalam sehari. Menceritakan pengalaman kerjanya dan menginspirasi anak-anak di Sekolah Dasar (SD). Sungguh mulia mereka. Membebaskan diri sejenak dari sebuah pekerjaan yang memberikannya materi di akhir bulan hanya untuk menginspirasi anak-anak SD. Sungguh terhormat mereka. Bisa mewakili teman-temannya yang berprofesi sama, yang jumlahnya banyak diluar sana untuk bertemu calon profesional muda di kota ini, Makassar.

Saya adalah salah satu pendamping dari Tim 1 Kelas Inspirasi Makassar, yang berada di SD Inpres Tamamaung I dan III. Dua sekolah yang berada dalam satu kompleks di jalan A.P. Pettarani III. Sekilas terlihat dari luar gerbang sekolah bahwa sekolah ini besar, dengan satu papan nama sekolah yang terpasang. Sesungguhnya jika kita telah memasuki gerbangnya akan didapati dua ruang kepala sekolah, dari dua sekolah yang berbeda. Benar, sekolah ini sangat kecil ternyata. Masing-masing sekolahnya hanya memiliki 4 ruang kelas yang digunakan oleh siswa kelas 1-6 secara bergantian.

Disekolah ini, saya dan tiga teman Kelas Inspirasi Makassar lainnya akan mendampingi delapan orang relawan pengajar. Mereka datang dari berbagai profesi. Mulai dari Mayor TNI AL, Jurnalis, Peneliti, Dosen, dan Pemain bola. Profesi-profesi yang selama ini dapat di lihat di televisi atau di buku pelajaran saja. Kini profesi-profesi itu seperti keluar dari buku dan hadir secara nyata di depan kelas. Profesional tersebut keluar dari buku untuk menjadi relawan pengajar.

Relawan adalah orang yang bergerak secara suka rela demi kepentingan orang banyak. Semua tidak memikirkan, “apa yang akan saya dapatkan dari sini?”. Semua hanya memikirkan, “apa yang saya bisa berikan disini?”. Saya menemukan mereka disini. Di lokasi saya berdiri pagi ini.

Tugas saya sebagai pendamping tidaklah berat. Kami hanya berkeliling kelas, hanya ikut membantu mencairkan suasana kelas jika terjadi kebekuan komunikasi antara pengajar dan siswa. Setidaknya, dari sini saya bisa ikut mengenal lebih dekat profesi-profesi yang hadir. Ternyata, tugas saya benar-benar tidaklah berat. Semua relawan pengajar sungguh mampu menarik perhatian di dalam ruang kelas. Perhatian yang memiliki khasnya tersendiri. Banyak yang menarik dari Tim 1.

Sekarang, saya bisa mengenal bagaimana pekerjaan Mayor Laut G. Siswanto sebagai TNI AL. Profesi yang dikenalkan dari seorang pria, mungkin seumuran dengan ayah saya. Beliau mampu menarik perhatian dengan seragam dan topi biru khas profesi angkatan laut. Tidak hanya murid yang tersinspirasi dari kehadirannya di sekolah ini, para guru pun ikut merasa terinspirasi. Mereka duduk dibangku belakang, didalam ruang kelas ini.

Kelas Inspirasi Makassar
Sedang menceritakan pentingnya nasionalisme. (Sumber foto : @kireynazkiya)

Sekarang, saya bisa mengenal bagaimana pekerjaan pak Amiruddin sebagai jurnalis dan penanggung jawab portal berita online. Profesi ini dikenalkan dengan alat peraga yang terbuat dari kertas bergambar kamera dan mic. Murid diberikan drama mewawancara didepan kelas. Mereka semua sangat antusias untuk mendapatkan kesempatan mewawancarai teman sekelasnya sendiri. Mereka juga mulai terinspirasi.

Kelas Inspirasi Makassar
Pak Amirrudin sedang mengajak murid untuk berpartisipasi drama wawancara. (sumber foto : @ChyaMadjid_)

Sekarang, saya bisa mengenal bagaimana pekerjaan kak Tenri sebagai peneliti. Profesi ini dikenalkan dengan mengajak anak-anak untuk selalu menghadirkan “tanda tanya” di kepalanya. Sulit? Tidak bagi mereka. Mereka dikenalkan bahwa dengan menelitilah mereka dapat mengetahui hal-hal yang baru. Dikelas kak Tenri ini sangat berwarna bagi saya. Setiap di akhir jam pelajaran, mereka diajak untuk menuliskan cita-cita. Mulai membuat jemuran cita-cita sampai pesawat cita-cita di kertas-kertas berwarna yang telah disiapkan. Sejak saat itu mereka telah berani bermimpi.

Kelas Inspirasi Makassar
Kak Tenri sedang menunjukkan dunia kepada anak-anak SD. (sumber foto : @ChyaMadjid_)

Sekarang, saya bisa mengenal bagaimana pekerjaan bu Rusliana sebagai dosen Bahasa Inggris. Mereka diajak untuk belajar dengan games-games menarik. Diajak menempel kertas hingga membuat gambar di papan kelas. Satu hal yang luar biasa yang sempat saya lihat di kelas ibu ini. Beliau sempat mengangkat beberapa anak untuk membuat gambar yang tinggi di papan. Luar biasa sekali beliau.

Kelas Inspirasi Makassar
Bu Rusliana sedang memberikan games tentang Bahasa Inggris. (sumber foto : @ChyaMadjid_)

Profesional terakhir adalah pemain sepak bola dari tim kebanggan kota ini, PSM Makassar. Namanya adalah Hendra Wijaya dan M. Rahmat. Mereka sempat kebingungan di awal kedatangannya di sekolah ini saat pagi hari. Mereka bertanya, “apa yang harus saya lakukan jika dikelas?”. Saya hanya menjawab, “kenalkan profesi seorang pemain bola dan ajak mereka seperti anda”. Satu hingga dua jam pertama mereka masih kelihatan bingung didalam kelas. Terlihat dari keringat yang mengalir deras diwajah mereka. Namun, satu hal yang telah mereka dapatkan dari hari ini. Mereka mendapatkan keringat hasil mengajar dikelas. Keringat yang teman-teman pemain bola lainnya tidak pernah hasilkan. Terima kasih atas waktunya.

Kelas Inspirasi Makassar
Hendra Wijaya PSM sedang praktik bermain bola. (Sumber foto : @kireynazkiya)
Kelas Inspirasi Makassar
M. Rahmat sedang melempar pertanyaan tentang PSM Makassar. (Sumber foto : @kireynazkiya)

Sempat di sela-sela waktu mengajar, saya berdiskusi dengan salah satu kepala sekolah disini.

“Nak, ternyata kalian semua baru dipertemukan disini, yah?”, tanya ibu kepala sekolah kepada saya.

“Iya, ibu. Kami semua dipertemukan oleh Kelas Inspirasi Makassar. Teman-teman relawan panitia pendamping sekolah, pengajar, fotografer hingga videografer.” Jelasku kepadanya.

“Relawan? Berarti kalian tidak di gaji, yah?”, dilemparkannya pertanyaan ini kepadaku dari ibu kepala sekolah dengan wajah bingung.

“Tidak, ibu. Kami adalah relawan. Kami tidak mencari bayaran berbentuk uang atau material lainnya dari kegiatan ini. Kami hanya mencari senyum kebahagian yang diberikan dari adik-adik disini. Melihat mereka tersenyum, merupakan kebahagian tersendiri bagi saya dan yang lainnya.”, jawabku dengan tersenyum.

Menurut saya, ini yang membedakan antara kegiatan sosial dan pekerjaan-pekerjaan dalam perusahaan. Di kegiatan sosial kita akan mendapatkan sesuatu yang tak berbentuk material. Saya menyebutnya kebahagiaan. Kebahagiaan yang datang dari lingkungan sekitar. Disini sumber kebahagiaanku adalah anak-anak SD dan pihak sekolah. Mereka bahagia karena dihadirkan profesional melalui Kelas Inspirasi di sekolahnya, dan saya bahagia melihat mereka bahagia melakukan kegiatan-kegiatan Kelas Inspirasi ini. Senyum, tawa adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Sekarang saya sadar, kebahagiaan sifatnya menular.


Dapatkan info seputar Makassar lainnya langsung di akun LINE kalian. Klik gambar dibawah ini

Social media di makassar

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.