Kabar Perpustakaan

Saya pernah memasuki salah satu sekolah di kota. Sekolah yang memiliki 3 bagian bangunan. Bangunan yang pertama terdiri dari 4 ruang kelas. Bangunan yang kedua terdiri dari 1 kantin, 2 ruang kelas dan 1 ruang guru. Bangunan ketiga awalnya saya tidak tahu berfungsi sebagai apa. Pintunya terlihat tertutup, seperti tidak ada kehidupan didalamnya.

Jam masih menunjukkan pukul 09.30 pagi. Saya bertemu dengan seorang guru yang sedang menuju ruang guru. Saya mengikutinya kesana. Menceritakan maksud kehadiranku untuk mengajak sekolah ini mengadakan Kelas Inspirasi. Disini saya bercerita panjang lebar tentang Kelas Insprasi, hingga pada akhirnya perhatianku kembali pada bangunan yang ketiga. Bangunan yang belum kuketahui perannya di sekolah ini.

“Bu, bangunan apakah yang disana itu?” tanyaku sambil menunjuk pada bangunan yang tertutup rapat pintunya.

“Itu adalah perpustakaan, nak.” Jawabnya dengan santai.

Saya seakan tak percaya bahwa itu adalah perpustakaan. Bangunan yang hanya memiliki satu ruangan ini seperti tak ingin ada yang mendekatinya. Pintunya tertutup rapat. Seharusnya sebuah perpustakaan pintunya terbuka, agar anak sekolah dapat dengan mudah masuk kedalamnya. Entah apa alasannya sehingga pintu perpustakaan ini tidak memberikan cela untuk menunjukkan bukunya dari kejauhan.

Saya mencoba mendekatinya. Mencoba berkenalan dengan ruangan ini. Pagi itu anak-anak masih sibuk dengan kegiatan belajarnya dalam kelas. Mereka belum ada yang terlihat berkeliaran. Akhirnya bertemu dengan seorang bujang sekolah. Bercerita sedikit tentang maksud kedatangan dan mencoba untuk melihat lebih dekat ruangan yang diberikan nama perpustakaan itu. Kunci dan gantungannya yang berbentuk kunci terlihat dikeluarkan dari sakunya. Mencobabuka dengan mencocokkan pada lubang dibawah gagang pintunya. “Ngieeekk!” suara pintu menghiasi kedatanganku di ruangan ini. Ini seperti sound efek pada film-film horor yang ku nonton. Sarang laba-laba berada dimana-mana. Debu seperti menjadi bagian wajib dari bangku dan meja. Semua seperti tak pernah terjamah oleh kehidupan diluar ruangan. Si bapak bujang sekolah meminta izin untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Saya ditinggalkannya sendiri.

Buku yang masih tertata rapi dengan berlapis debu.
Buku yang masih tertata rapi dengan berlapis debu.

Ruangan ini tidak terlalu luas, tapi jumlah buku didalamnya bisa dikatakan lengkap. Buku cerita, pengetahuan dan beberapa jenis lainnya tertata rapi di lemari-lemari yang berdiri. Kurangnya, hanya tidak ada yang mengunjungi.

Saya duduk di salah satu bangku plastik berwarna hijau, masih didalam perpustakaan. Melihat sekeliling ruangan, secara 360 derajat. Seharusnya ruangan ini menjadi surga bagi anak-anak. Buku cerita dan pelajaran ada dimana-mana. Gambar didalam buku seharusnya mampu menarik mereka untuk membaca si buku berlama-lama. Apakah mereka tidak mendengar suara panggilan dari buku-buku ini? Suara mereka seperti ajakan bermain bersama. Bermain ala buku adalah setiap lembarannya dibaca atau hanya dilihat gambar-gambarnya oleh anak-anak. Mereka masuk dalam dunia yang dibuat oleh si buku.

Buku-buku perpustakaan di sekolah, mereka menunggu untuk disentuh dan dibaca.
Buku-buku perpustakaan di sekolah, mereka menunggu untuk disentuh dan dibaca.

Sekarang, buku-buku ini mungkin hanya bersifat pasrah. Menunggu hingga pintunya dibuka dan dihampiri oleh pembacanya, itu jika ada. Setiap harinya mereka hanya bisa terjebak di ruangan terkunci dan bertumpukan dengan teman-temannya yang lain. Seandainya mereka, si buku bisa jalan tentunya tidak begini jadinya. Mereka pasti akan memasuki kelas dan membimbing anak-anak untuk belajar bersama, ini pasti rencana dari buku pengetahuan. Beda lagi jika buku cerita anak yang bisa berjalan. Mereka pasti akan mengajak si anak untuk duduk bersama didalam perpustakaan sambil membaca bersama teman-teman yang lain. Itu semua jika mereka, si buku-buku bisa berjalan kesana kemari.

Seharusnya ada yang mampu mengajak mereka untuk berkunjung dirumah para buku. Entah itu guru, kepala sekolah atau orang tua siswa. Seharusnya mereka berperan dalam menghidupkan minat baca di sekolah. Tidak malah mengunci ruangannya dengan rapat. Mereka seperti membatasi ruang gerak siswa untuk kesana. Kalau pun tidak ada yang menjaga ruangan perpustakaan, biarkan saja pintu perpustakaan itu terbuka. Biarkan buku-buku itu terlihat. Jika mereka telah melihat, mereka pasti akan mendatanginya dan membaca buku disana. Guru mungkin bisa membimbing murid untuk meminjam buku perpustakaan, dan melakukan pencatatan untuk peminjaman, Bergantian dengan guru yang lainnya dalam seminggu menjadi administrasi.

Biarkanlah perpustakaan menjadi ramai oleh anak-anak disaat istirahat kelas. Biarkan buku-buku menjadi semakin bahagia. Tidak merasa kesepian di dalam ruangan setiap harinya. Tubuh mereka dibaca oleh anak-anak pemilik rasa ingin tahu yang tinggi. Semoga hubungan mereka lebih baik kedepannya. Tidak hanya di sekolah ini.

Kawan, saya punya saran. Jika guru-guru disekolah itu merasa kesulitan, bagaimana jika kita membantu mereka. Datang kesekolah untuk turut mengajak murid-murid pergi ke perpustakaan di sekolahnya. Mereka mungkin butuh orang yang bisa mengarahkan kesana. memberitahukan sisi menarik dari perpustakaan. Kalian siap?

Komentar

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.